RSS

Kebiasaan - Kebiasaan yang Dapat Merusak Otak

1. Tidak sarapan
Mereka yang tidak sarapan akan memiliki kadar gula darah yang rendah. Hal ini akan memicu ketidakcukupan nutrisi pada otak padahal otak butuh nutrisi yang cukup untuk tetap bisa bekerja. Akibat kurang suplai nutrisi terutama glukosa, akhirnya kemampuan otak akan cepat menurun.

2. Makan berlebihan
Sikap yang terlalu berlebihan bisa mengeraskan pembuluh darah di otak yang akhirnya dapat menurunkan kekuatan mental.

3. Merokok
Semua orang tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan dan ada banyak dampak buruk yang dihasilkan bagi organ tubuh jika merokok. Khusus untuk organ otak, merokok bisa menyebabkan otak menyusut dan memicu penyakit pikun atau Alzheimer. Sel-sel saraf akan menyusut pada bagian hippocampus dan korteks depan yang berfungsi menyimpan ingatan.

4. Konsumsi gula berlebih
Terlalu banyak mengonsumsi gula akan mengganggu proses penyerapan protein dan nutrisi sehingga tubuh akan mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) dan akhirnya mengganggu perkembangan otak.

5. Polusi udara
Otak adalah organ yang mengonsumsi oksigen paling banyak dari tubuh. Menghirup udara yang penuh polusi akan mengurangi suplai oksigen ke otak dan akhirnya mengurangi efisiensi otak dalam bekerja.

6. Kurang tidur
Tidur akan membuat otak berisitirahat. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama sama saja dengan membunuh sel otak perlahan-lahan karena otak terus dipaksa untuk tetap menyala padahal otak juga butuh istirahat.

7. Menutup kepala saat tidur
Tidur dengan kepala ditutup bantal misalnya, akan meningkatkan konsentrasi karbondioksida ke otak. Saat bernafas dengan kepala tertutup, karbondioksida hasil bernafas akan masuk kembali ke dalam tubuh dan hal itu sangat berbahaya.

8. Tetap bekerja dalam keadaan sakit
Memaksakan diri untuk bekerja atau belajar dalam kondisi sakit sangat tidak baik untuk otak dan akan merusak sel-sel otak.

9. Jarang berbicara
Percakapan akan membantu seseorang untuk terus mengaktifkan sel-sel otaknya, apalagi percakapan yang berbau intelektual. Orang yang jarang berbicara akan membiarkan sel-sel otaknya mati perlahan-lahan karena tidak pernah mengaktifkannya.

10. Jarang menstimulasi pikiran
Berpikir adalah cara paling baik untuk melatih otak. Kurang menstimulasi otak dengan berbagai hal akan menyebabkan otak menyusut.

Nah, mulai sekarang di kurangi ya kebiasaan - kebiasaan di atas, walau sepele tapi dampaknya bikin bahaya lho...
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Cara Mengatasi Infeksi Tenggorokan dengan Cara Alami

Infeksi tenggorokan merupakan suatu penyakit yang sangat tidak mengenakkan. Infeksi tenggorokan berbeda dengan radang tenggorokan. Radang tenggorokan biasanya disebabkan karena virus, sedangkan infeksi tenggorokan disebabkan karena bakteri. Seseorang yang menderita penyakit ini biasanya akan merasa kesakitan ketika menelan sesuatu. Bagaimana jika ini terjadi pada anda? Tentu hal ini akan mengganggu selera makan anda. Sangat tidak mengenakkan bukan?

Jika anda menderita infeksi tenggorokan, maka itu harus segera diatasi. Jika tidak, bisa jadi infeksi tenggorokan yang anda derita akan sampai berbulan - bulan. Mengobati infeksi tenggorokan ketika masih berupa gejala, akan lebih mudah daripada sudah terlanjur parah.

infeksi tenggorokan

Hal pertama yang ada dipikiran anda ketika menderita infeksi tenggorokan adalah bagaimana menyembuhkannya dengan mengonsumsi obat. Bagus memang, dan itu perlu dilakukan. Tapi tahukah anda? Infeksi tenggorokan ternyata juga bisa di sembuhkan dengan bahan yang alami. Sebelum anda mengatasinya dengan mengonsumsi obat, cobalah atasi dengan 5 bahan alami dibawah ini :

1. Kunyit
salah satu bumbu dapur ini sejak jaman dahulu memang sudah terbukti banyak manfaatnya bagi kesehatan. Salah satunya adalah untuk meredakan infeksi tenggorokan.

Caranya : Campurkan setengah sendok teh kunyit dengan air dan setengan sendok teh garam, kemudian panaskan. Diamkan hingga dingin, Lalu gunakan campuran bahan ini untuk berkumur pada pagi hari. Air kunyit ini sangat baik untuk mengatasi infeksi tenggorokan.

2. Teh jahe
Jahe juga dikenal sebagai tanaman yang kaya manfaat. Jahe juga bagus untuk kesehatan tenggorokan. Anda hanya perlu menjadikan teh untuk mengatasi infeksi tenggorokan yang anda derita. Teh jahe ini bahkan diklaim sebagai bahan alami yang bisa menyembuhkan infeksi tenggorokan dengan cepat.

Caranya : Memarkan beberapa ruas jahe, kemudia rebus dengan air hingga mendidih. Tambahkan gula jawa atau gula biasa didalamnya. Akan lebih nikmat jika disajikan ketika masih panas.

3. Teh raspberry
Bahan alami untuk mengatasi infeksi tenggorokan selanjutnya adalah teh raspberry. Anda bisa menggunakan teh ini untuk berkumur atau diminum untuk meredakan radang pada tenggorokan anda.

Caranya : Letakkan dua sendok teh daun raspberry kering ke dalam cangkir. Lalu tuangkan air panas di dalamnya. Diamkan hingga minuman menjadi hangat. Jika rutin mengonsumsinya, tenggorokan anda akan merasa lebih baik.

4. Air garam
Berkumur air garam secara teratur sangat baik untuk mengatasi infeksi tenggorokan. Cara membuatnya pun sangat mudah dan sederhana sekali.

Caranya : Tambahkan sejumput garam pada air mendidih kemudian campurkan. Diamkan sejenak sampai air menjadi hangat atau setengah dingin. lalu berkumurlah dengan air garam tersebut. Anda akan merasakan khasiatnya.

5. Daun sage
Bahan alami untuk mengatasi infeksi tenggorokan yang terakhir adalah dengan menggunakan daun sage. Tanaman herbal ini memang sangat baik untuk kesehatan. Salhsatunya untuk meredakan infeksi tenggorokan.

Caranya : Campurkan satu sendok teh daun sage dengan air hangat. Diamkan sejenak, kemudian minum ramuan alami tersebut untuk mengatasi infeksi tenggorokan anda.

Itulah cara dan bahan - bahan alami untuk mengatasi infeksi tenggorokan. Jika infeksi yang anda derita belum juga ada berubahan, itulah saatnya bagi anda untuk memeriksakannya pada dokter ahli. Semoga bermanfaat.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Bahaya Mengkonsumsi Obat Maag Terlalu Sering

Antasida, istilah umum yang dipakai untuk obat maag. Keasaman dan gangguan pencernaan biasa diatasi dalam beberapa waktu yang cenderung singkat agar tidak mengganggu aktivitas.

Kelebihan asam lambung dipicu oleh berbagai hal, mulai dari stres, makan makanan berbumbu dan pedas, dan lain sebagainya. Walaupun berlaku sebagai obat, namun antasida tidak aman dikonsumsi terlalu sering.
Karena merupakan obat cuci mata

Antasida sebenarnya berfungsi seperti obat pencuci mata. Ia tidak benar-benar membantu mengatasi keasaman itu sendiri, namun membantu meringankannya saja.
Berikut beberapa bahaya akibat mengkonsumsi obat maag teralu sering :

1. Mengikis perut
Ketika dipenuhi asam, maka kadar keasaman di dalamnya dapat menyebabkan reaksi kimia yang akan mengikis perut.

2. Membunuh bakteri baik
Tidak semua bakteri di dalam perut itu buruk. Bakteri baik bisa juga tumbuh subur di dalam perut dan akan ikut mati saat Anda mengonsumsi antasida.

3. Efek yoyo
Antasida dapat menekan asam lambung, namun efeknya akan berakhir dan asam bisa bergejolak kembali. Serangan selanjutnya inilah yang harus dicermati karena umumnya bila tidak diatasi dengan baik akan menyebabkan sakit yang lebih parah.

Adanya efek di atas bukan berarti Anda tak boleh mengonsumsi obat maag sama sekali ya. Anda boleh mengonsumsi obat maag namun ikuti petunjuk di dalamnya dan konsultasikan dengan dokter bila masalah berlanjut.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Virus Ebola

Penyakit Virus Ebola (EVD) atau Demam Berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh Virus Ebola. Gejalanya biasanya dimulai dua hari sampai 3 minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sakit kepala. Biasanya di ikuti mual, muntah dan diare serta menurunnya fungsi lever dan ginjal. Pada saat itu beberapa orang mulai mengalami pendarahan.

Penyebab dan Diagnosis

Virus Ebola biasanya didapatkan melalui kontak darah atau cairan tubuh hewan yang terjangkiti Virus Ebola (biasanya terjangkit oleh binatang monyet, babi dan kelelawar buah). Penyebaran udara belum pernah tercatat dalam lingkungan alami. Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan meyebarkan Virus Ebola. Begitu terjadi infeksi pada manusia. Untuk memastikan diagnosis sample darah harus di uji di labolatorium

Pencegahan

Pencegahan meliputi mengurangi penyebaran penyakit dari Monyet, Babi dan Kelelawar buah yang terinfeksi ke manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa hewan tersebut terhadap infeksi serta membunuh dan membuang hewan dengan benar dan mengenakan pakaian pelindungdan mencuci tangan ketika berada disekitar orang yang menderita penyakit tersebut.

Belum ada pengobatan khusus untuk penyakit ini. Upaya untuk membantu orang yang terjangkit penyakit ini adalah pemberian therapy Rehidrasi Oral (Air yang sedikit manis dan asin untuk diminum) atau cairan intravena. Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Tentang Virus Ebola

EVD pertama kali di indetifikasi pada tahun 1976 di Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Penyakit ini biasanya mewabah di daerah Tropis Afrika sub-sahara.

Wabah terbesar hingga saat ini adalah wabah Ebola Afrika Barat 2014 yang sedang terjadi yang melanda negara Guyana, Sierra Leone, Liberia dan kemungkinan Nigeria.

Hingga bulan Agustus 2014, lebih dari 1600 kasus telah terindentifikasi, Banyak upaya untuk mengembangkan Vaksin Anti Virus Ebola, tapi belum ada yang berhasil.

Amerika Serikat Akhirnya Terjangkit Virus Ebola

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat menyatakan seorang petugas Kesehatan di Texas dinyatakan positif terkena Ebola. Hal tersebut merupakan kasus pertama Ebola di Amerika Serikat.

Pria asal Liberia bernama Thomas Eric Duncan, petugas Rumah Sakit Dallas yang di diagnosa menderita Ebola di Amerika Serikat sebulan yang lalu dan meninggal pada Rabu, 8 Oktober 2014.

Jangan Takut Virus Ebola

Mengapa Ebola lebih menakutkan dari Flu?

Menghadapi sesuatu yang baru dan tidak mengetahui pengetahuan tentang itu menimbulkan rasa bahwa kita harus bisa melindungi diri sendiri.

Orang juga merasakan bahwa sekali saja orang terjangkit Virus Ebola tidak ada lagi yang mereka bisa lakukan tentang itu (sampai saat ini belum ada obat untuk Ebola) dan memiliki tingkat kefatalan yang tinggi.

Gejala Ebola seperti Muntah dan Pendarahan juga mempengaruhi persepsi kita tentang penyakit ini karena kesannya semakin banyak rasa sakit dan penderitaan membuat kita jadi ketakutan.

Faktor lain yang membuat orang lebih takut Ebola adalah adanya pemberitaan-pemberitaan tentang Virus mematikan ini telah menjadi berita utama di media-media massa.

Beberapa Hal Yang Dapat Di Lakukan Untuk Mengurangi Kecemasan Terhadap Ebola Antara Lain :

1. Kurangi emosi yang dapat menimbulkan persepsi bahwa Ebola penyakit berbahaya yang belum ada obatnya.

2. Mencari fakta-fakta dan mengetahui gejala dan bagaimana Virus Ebola bisa menyebar

3. Jangan khawatir yang berlebihan, sebab tingkat kekhawatiran yang tidak sesuai bukti bisa berdampak buruk terhadap kesehatan.

4. Kecemasan berlebihan akan menimbulkan stres dan bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh kita.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Penyebab Payudara Sakit Selain Kanker

Payudara yang terasa sakit tak hanya membuat tak nyaman, tetapi juga bisa membuat banyak wanita ketakutan. Namun jangan terburu-buru khawatir ketika payudara Anda terasa sakit, Ladies. Jangan langsung takut bahwa payudara yang terasa sakit disebabkan oleh kanker.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan payudara terasa sakit dan tak nyaman. Beberapa di antaranya adalah hal sepele yang tak perlu dikhawatirkan. Berikut adalah beberapa penyebab payudara terasa sakit, seperti dikutip dari Merdeka.com.


1. PMS

PMS atau pre-menstrual syndrome adalah sindrom yang sering terjadi saat wanita akan mengalami menstruasi. Para wanita pastinya sudah sangat paham dengan apa saja yang bisa mereka rasakan saat akan menjelang menstruasi. Mulai dari emosi yang mudah naik turun, nafsu makan yang meningkat, serta payudara yang terasa lebih sensitif dari biasanya.
Selain itu, payudara yang sakit juga bisa muncul akibat PMS. Ini karena adanya perubahan hormon yang bersamaan dengan menstruasi. Perubahan pada hormon estrogen biasanya akan menyebabkan payudara menjadi lebih mudah terasa sakit. Rasa sakit semacam ini disebut rasa sakit siklus yang berkaitan dengan menstruasi. Jangan khawatir jika ini penyebab payudara terasa sakit.

2. Berolahraga berlebihan

Olahraga yang berlebihan, seperti terlalu banyak melakukan sit up, push up, atau angkat beban bisa menyebabkan rasa sakit pada payudara. Meski tampak bahwa payudara yang terasa sakit, namun sebenarnya rasa sakit ini tidak berasal dari payudara.
Rasa sakit akibat terlalu banyak olahraga berasal dari otot yang ada di bawah jaringan payudara. Ketika terlalu banyak berolahraga, otot ini akan menegang sehingga menyebabkan rasa sakit pada payudara.
Mengangkat barang berat juga bisa membuat jaringan dan otot yang ada di bawah payudara menjadi cedera atau menegang. Jika ini yang terjadi, Anda tak perlu khawatir, karena sebenarnya rasa sakit itu berasal bukan dari payudara melainkan dari otot lain di bawah payudara.

3. Mengangkat barang berat

Anda mungkin tidak olahraga berlebihan, namun baru saja mengangkat benda-benda berat seperti perabotan rumah tangga atau bawang lainnya. Ini juga bisa memicu rasa sakit pada payudara. Sama seperti ketika melakukan olahraga berlebihan, mengangkat barang berat juga bisa mempengaruhi otot di bawah payudara.
Mengangkat barang berat juga bisa membuat jaringan dan otot yang ada di bawah payudara menjadi cedera atau menegang. Jika ini yang terjadi, Anda tak perlu khawatir, karena sebenarnya rasa sakit itu berasal bukan dari payudara melainkan dari otot lain di bawah payudara.

4. Menggunakan bra yang salah

Banyak wanita yang secara tak sadar menggunakan bra yang kurang tepat dengan bantuk atau ukuran payudara mereka. Terkadang wanita menggunakan bra yang terlalu kecil, terlalu besar, atau menggunakan bra yang membuat payudara mereka 'tersiksa'. Menggunakan bra yang salah bisa memberikan dampak yang besar pada kesehatan payudara Anda.
Jika bra terlalu kecil dan ketat, kawat yang ada di dalamnya kemungkinan akan menekan payudara dan membuatnya terasa sakit. Ini yang menyebabkan payudara terasa sakit, ketika Anda menggunakan bra yang salah terlalu lama. Begitu juga jika Anda menggunakan bra yang terlalu longgar dan tak bisa memberikan 'dukungan' yang tepat untuk payudara. Ini akan membuat payudara bergerak bebas dan menimbulkan rasa sakit.

5. Tak menggunakan bra olahraga

Ketika melakukan olahraga, perlengkapan termasuk pakaian yang tepat juga perlu diperhatikan. Berolahraga menggunakan bra olahraga yang tepat akan membantu mencegah rasa sakit pada payudara. Ketika Anda melakukan olahraga, ada banyak otot dan gerakan yang harus diwaspadai.
Jika payudara bergerak terlalu aktif dan banyak otot yang cedera karena kurangnya dukungan dari pakaian yang tak tepat, kemungkinan payudara Anda akan terasa sakit setelahnya. Jadi, pastikan untuk berolahraga dengan menggunakan pakaian yang tepat, terutama bra olahraga yang bisa menunjang payudara Anda dengan baik saat berolahraga.

6. Jaringan payudara tertentu

Ada jenis wanita yang memang memiliki payudara yang memiliki benjolan. Secara teknis, ini disebut sebagai jaringan payudara fibrocystic. Wanita yang memiliki jenis jaringan payudara ini akan merasakan sakit pada payudara mereka saat menstruasi.
Menurut National Breast Cancer Foundation, jaringan payudara yang membentuk benjolan ini disebut dengan kista yang terisi cairan. Ini tak selalu berkaitan dengan kanker payudara, namun ini bisa menyebabkan rasa sakit dan lebih sensitif pada payudara ketika terjadi perubahan

7. Minum terlalu banyak kopi dan teh

Meski kopi dan teh tak menyebabkan sakit pada payudara, namun sebuah penelitian mengungkap bahwa terlalu banyak minum kopi dan teh bisa mempengaruhi rasa tak nyaman pada payudara, terutama wanita yang memiliki jaringan payudara fibrocystic. Jika Anda memiliki kebiasaan mengonsumsi terlalu banyak kopi dan payudara terasa sakit, kemungkinan itulah penyebabnya.
Secara umum, sakit yang sementara pada payudara dan sensitivitas yang meningkat tak harus selalu membuat Anda ketakutan. Jika rasa sakit ini hanya terjadi selama beberapa hari, maka kemungkinan penyebabnya adalah salah satu hal di atas.
Namun jika dengan adanya rasa sakit, payudara juga mengalami perubahan dalam segi fisik dan terasa mencurigakan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Manfaat Tidur Telanjang

Pernahkah terlintas di pikiran anda untuk tidur tanpa berpakaian pada malam hari? Mungkin hanya segelintir orang yang melakukan kebiasaan aneh seperti ini. Kebanyakan orang pasti lebih terbiasa tidur dengan menggunakan baju atau piyama. Padahal tidur telanjang tanpa memakai sehelai pakaian pun bisa memberi manfaat bagi anda.

Anda mungkin tidak percaya dan bertanya - tanya bagaimana bisa tidur telanjang bisa memberi manfaat? Untuk lebih jelasnya, anda bisa membaca 5 manfaat sehat tidur telanjang dibawah ini :

Manfaat sehat tidur telanjang

1. Bermanfaat untuk kesehatan kulit
Ketika anda sedang tidur, sel kulit anda juga tumbuh. Jadi, ketika seseorang tidur dan mengenakan pakaian akan menghambat proses pertumbuhan kulit sehingga bisa membuat kulit cepat keriput.

2. Bisa meningkatkan keintiman (khusus menikah)
Tidur telanjang ketika malam hari akan membuat kulit anda dan pasangan menjadi bersentuhan. Ketika kulit bersentuhan inilah akan meningkatkan produksi oxytocin. Sebauh penelitian mengatakan bahwa orang yang tidur telanjang bersama dengan pasangannya cenderung lebih bahagia jika dibandingkan dengan pasangan yang tidur menggunakan baju ataupun piyama. Kontak fisik yang terjadi dengan pasangan juga penting secara fisik dan emosi untuk menurunkan resiko penyakit dan meningkatkan kesehatan tubuh.

3. Mencegah penyakit
Tidur tanpa mengenakan pakaian membuat suhu tubuh lebih sejuk sehingga bisa membuat anda tidur lebih nyenyak dan lebih baik. Selain itu, tidur telanjang juga bisa menurunkan resiko terkena diabetes. Bukan hanya itu saja, tidur telanjang juga baik untuk kesehatan keint*man wanita karena memberikan ventilasi yang bisa mencegah bakteri berkembang.

4. Bisa mendapat udara sejuk yang lebih baik
Saat tidur masih menggunakan baju atau pakaian, akan menjaga temperatur tubuh didalam. Sebuah penelitian mengatakan bahwa ruangan yang sejuk dan temperatur tubuh bisa memberikan efek yang lebih positif jika dibandingan dengan suhu tubuh masih terjebak dalam pakaian. Efek positif yang lainnya adalah menurunkan tekanan darah, menurunkan berat badan serta mengatur resistensi insulin. Jika anda merasa dingin, cobalah kenakan kaos kaki untuk menghangatkan kaki anda.

5. Bisa meningkatkan percaya diri
Manfaat sehat tidur telanjang yang terakhir adalah bisa meningkatkan rasa percaya diri. Rasa sensual ketika tidur telanjang bisa meningkatkan kesehatan mental dan rasa percaya diri pada seseorang, meskipun jika mereka tidur telanjang sendirian.

Demikianlah manfaat sehat tidur telanjang. Memang tidak semua orang suka tidur telanjang. Bisa jadi karena mereka tidak terbiasa, cuaca yang dingin ataupun memang tidak merasa nyaman. Tetapi tidak ada salahnya anda mencoba, bukan?
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Neonatus dengan Hypoglicemia

A. Pengertian
Hipoglikemi adalah suatu keadaan, dimana kadar gula darah plasma puasa kurang dari 50 mg/%.
Populasi yang memiliki resiko tinggi mengalami hipoglikemi adalah:
- Diabetes melitus
- Parenteral nutrition
- Sepsis
- Enteral feeding
- Corticosteroid therapi
- Bayi dengan ibu dengan diabetik
- Bayi dengan kecil masa kehamilan
- Bayi dengan ibu yang ketergantungan narkotika
- Luka bakar
- Kanker pankreas
- Penyakit Addison’s
- Hiperfungsi kelenjar adrenal
- Penyakit hati

Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:
- Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga terjadi hiperinsulin.

- Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan glikogen.

- Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

- Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau metabolisme insulin terganggu.

B. Patofiologi

Sepsis


Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga

Pemakaian parenteral nutrition


Enteral feeding


Pemakaian Corticosteroid therapi

Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika

Kanker pada keluarga



















C. Fokus Pengkajian
Data dasar yang perlu dikaji adalah :
1. Keluhan utama : sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.

2. Riwayat :
- ANC
- Perinatal
- Post natal
- Imunisasi
- Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga
- Pemakaian parenteral nutrition
- Sepsis
- Enteral feeding
- Pemakaian Corticosteroid therapi
- Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika
- Kanker

3. Data fokus
Data Subyektif:
- Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas
- Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin
- Rasa lapar (bayi sering nangis)
- Nyeri kepala
- Sering menguap
- Irritabel

Data obyektif:
- Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,
- Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma
- Plasma glukosa < 50 gr/%

D. Diagnose dan Rencana Keperawatan

1. Potensial komplikasi s.e kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi

Rencana tindakan:
- Cek serum glukosa sebelum dan setelah makan
- Monitor : kadar glukosa, pucat, keringat dingin, kulit yang lembab
- Monitor vital sign
- Monitor kesadaran
- Monitor tanda gugup, irritabilitas
- Lakukan pemberian susu manis peroral 20 cc X 12
- Analisis kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan hipoglikemi.
- Cek BB setiap hari
- Cek tanda-tanda infeksi
- Hindari terjadinya hipotermi
- Lakukan kolaborasi pemberian Dex 15 % IV
- Lakukan kolaborasi pemberian O2 1 lt – 2 lt /menit

2. Potensial terjadi infeksi s.e penurunan daya tahan tubuh
Rencana tindakan:
- Lakukan prosedur perawatan tangan sebelum dan setelah tindakan
- Pastikan setiap benda yang dipakai kontak dengan bayi dalam keadaan bersih atau steril
- Cegah kontak dengan petugas atau pihak lain yang menderita infeksi saluran nafas.
- Perhatikan kondisi feces bayi
- Anjurkan keluarga agar mengikuti prosedur septik aseptik.
- Berikan antibiotik sebagai profolaksis sesuai dengan order.
- Lakukan pemeriksaan DL, UL, FL secara teratur.

3. Potensial Ggn Keseimbangan cairan dan elektrolit s.e peningkatan pengeluaran keringat
- Cek intake dan output
- Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan bayi /kg BB/24 jam
- Cek turgor kulit bayi
- Kaji intoleransi minum bayi
- Jika mengisap sudah baik anjurkan pemberian ASI

4. Keterbatasan gerak dan aktivitas s.e hipoglikemi pada otot
- Bantu pemenihan kebutuhan sehari-hari
- Lakukan fisiotherapi
Ganti pakaian bayi secara teratur dan atau jika kotor dan basah.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Asuhan Keperawatan pada Bayi Prematur

Definisi :
Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran disebut dengan bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.

Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan pada bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit.

Masalah yang umum terjadi diantaranya respiratory disstres syndrom (RDS), enterocolitis nekrotik, hiperbilirubinemia, hypoglikemia, thermoregulation, patetnt duktus arteriosus (PDA), edema paru, perdarahan intraventrikular. Stressor tambahan lain pada infant dan orangtua meliputi hospitalisasi untuk penyakit pada bayi. Respon orangtua dan mekanisme koping mereka dapat menimbulkan gangguan pada hubungan antar mereka. Diperlukan perencanaan dan tindakan yang adekuat untuk permasalahn tersebut.

Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung pada berat badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75% - 80% angka kesakitan dan kematian neonatus.

Etiologi dan faktor presipitasi:
Permasalahan pada ibu saat kehamilan :
- Penyakit/kelainan seperti hipertensi, toxemia, placenta previa, abruptio placenta, incompetence cervical, janin kembar, malnutrisi dan diabetes mellitus.
- Tingkat sosial ekonomi yang rendah dan prenatal care yang tidak adekuat
- Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi
- Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang, alkohol, merokok dan caffeine

Pengkajian
1. Riwayat kehamilan
2. Status bayi baru lahir
3. Pemeriksaan fisik secara head to toe meliputi :
 Kardiovaskular
 Gastrointestinal
 Integumen
 Muskuloskeletal
 Neurologik
 Pulmonary
 Renal
 Reproduksi

4. Data penunjang
- X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas
- Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ
- Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa
- Kadar kalsium serum, penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia
- Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia)
- Kadar elektrolit, analisa gas darah, golongan darah, kultur darah, urinalisis, analisis feses dan lain sebagainya.

Diagnosa keperawatan
Dx. 1. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis

Dx. 2. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan

Dx. 3. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen, zat besi, dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi, tidak adekuatnya intake kalori, serta kehilangan kalori.

Dx. 4. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas, radiasi lingkungan, efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru.

Dx. 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat

Dx. 6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit

Dx. 7. Gangguan sensori persepsi : visual, auditory, kinestehetik, gustatory, taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care
Dx. 8. Deficit pengetahuan (keluarga) tentang perawatan infant yang sakit di rumah


DARTAR PUSTAKA


Klaus & Fanaroff. 1998. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. Edisi
4 EGC. Jakarta.

Markum,A.H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jilid I,Bagian Ilmu
Kesehatan Anak,FKUI,Jakarta.

Nelson. 2000. Ilmu kesehatan Anak,volume 2 Edisi 15. EGC. Jakarta.

Wong. Donna. L. 1990. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing,Fourth Edition,Mosby-Year Book Inc, St. Louis Missouri.

. . . . . 2000. Diktat Kuliah PSIK.FK Unair TA:2000/2001,Surabaya


Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahuluan Bayi Baru Lahir Rendah

A. PENGERTIAN
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.
Dalam hal ini dibedakan menjadi :
1. Prematuritas murni
Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

B. ETIOLOGI
Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :
1. Faktor ibu
- Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diaatas 35 tahun
- Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
- Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok
2. Faktor kehamilan
- Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
- Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini
3. Faktor janin
- Cacat bawaan, infeksi dalam rahim
4. Faktor yang masih belum diketahui

C. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Prematuritas murni
- BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
- Masa gestasi < 37 minggu
- Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
- Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
- Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
- Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
- Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
- Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
- Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah
- Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik
- Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna

2. Dismaturitas
- Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
- Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
- Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
- Tali pusat berwarna kuning kehijauan

D. KOMPLIKASI
1 Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
2 Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
3 Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
4 Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah
5 Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
6 Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
- Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
- Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
- Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
- Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahuluan Anemia

A. PENGERTIAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah.

B. PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut:
1. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan.
2. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah.
3. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
4. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).

C. TANDA DAN GEJALA
1. Tanda-tanda umum anemia:
a. pucat,
b. tacicardi,
c. bising sistolik anorganik,
d. bising karotis,
e. pembesaran jantung.
2. Manifestasi khusus pada anemia:
a. Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c. Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2. Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :
a. Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b. Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria.
c. Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.

E. PENATALAKSANAAN
a. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
b. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat.

F. MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
2. Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan.

G. TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Perfusi jaringan adekuat
- Memonitor tanda tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.
- Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
- Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri.
- Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah
- Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.
- Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebu-tuhan tubuh.
- Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
2. Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
- Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.
- Memonitor tanda tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).
- Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).
- Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari¬ hari sesuai dengan kemampuan anak.
- Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah.
- Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.
- Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemam-puan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah.
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
- Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
- Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
- Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
- Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC.
2. Suriadi, Yuliani R. (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta, CV Sagung Seto.
3. Tucker SM. (1997). Standar Perawatan Pasien. Edisi V. Jakarta, EGC.
4. Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
5. FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.
6. Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.
7. ACS. (2003). What is Anemia ?. Available (online) http: // www // yahoo / nurse / leucemia / htm.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Ganja Perburuk Kesuburan Pria

Para peneliti mengatakan bahwa lelaki yang menggunakan ganja berisiko mengalami gangguan pada kesuburannya.

Dalam studi terbesar di dunia untuk menyelidiki bagaimana faktor gaya hidup yang umum mempengaruhi ukuran dan bentuk sperma, sebuah tim peneliti dari Universitas Sheffield dan Manchester juga menemukan bahwa sampel ukuran dan bentuk sperma lebih buruk dalam sampel ejakulasi yang diambil selama musim panas, tapi lebih baik pada lelaki yang tidak melakukan aktivitas seksual selama lebih dari enam hari.

Untuk penelitian ini, seperti dilansir dari Zeenews, para ilmuwan merekrut 2.249 orang dari 14 klinik kesuburan di Inggris. Peserta diminta untuk mengisi kuesioner tentang riwayat kesehatan dan gaya hidupnya.

Data yang dapat diandalkan tentang morfologi sperma hanya tersedia pada 1.970 lelaki, sehingga para peneliti membandingkan informasi yang dikumpulkan dari 318 lelaki yang menghasilkan sperma dengan ukuran dan bentuk sperma normal ternyata kurang dari empat persen, sementara kelompok kontrol dari 1.652 orang di atas empat persen.

Lelaki yang memproduksi ejakulasi kurang dari empat persen sperma normal, hampir dua kali lebih mungkin telah menghasilkan sampel di musim panas (Juni sampai Agustus), atau jika mereka berusia lebih muda dari 30 tahun, telah menggunakan ganja dalam periode tiga bulan sebelum ejakulasi.

Pendapat serupa juga pernah dikemukakan oleh Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And. Ia mengatakan bahwa penggunaan ganja bisa menimbulkan beberapa efek pada kesehatan reproduksi lelaki antara lain kadar testoteron menurun, kualitas sperma yang buruk dan jumlah sperma yang sedikit.

Tak hanya itu, tambah dia, ganja juga bisa mengakibatkan pembesaran payudara lelaki, tapi ukuran testis mengecil. Akibatnya, dorongan seksual pun menurun dan bisa menyebabkan disfungsi ereksi.
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahuluan Asfiksia Neonatum

A. PENGERTIAN
Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar, 1989)
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998)
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001). Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (Penurunan PH).

B. JENIS ASFIKSIA
Ada dua macam jenis asfiksia, yaitu:
1. Asfiksia livida (biru)
2. Asfiksia pallidda (putih)


C. KLASIFIKASI ASFIKSIA
a. Asfiksia berdasarkan nilai APGAR 0-3
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
D. ETIOLOGI
Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
1. Asfiksia dalam kehamilan
a. Penyakit infeksi akut
b. Penyakit infeksi kronik
c. Keracunan oleh obat-obat bius
d. Uraemia dan toksemia gravidarum
e. Anemia berat
f. Cacat bawaan
g. Trauma
2. Asfiksia dalam persalinan
a. Kekurangan O2.
• Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)
• Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke uri.
• Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
• Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
• Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
• Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
• Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
b. Paralisis pusat pernafasan
• Trauma dari luar seperti oleh tindakan forseps
• Trauma dari dalam : akibat obet bius
`Penyebab asfiksia Stright (2004)
1. Faktor ibu, meliputi amnionitis, anemia, diabetes hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, obat-obatan iinfeksi.
2. Faktor uterus, meliputi persalinan lama, persentasi janin abnormal.
3. Faktor plasenta, meliputi plasenta previa, solusio plasenta, insufisiensi plasenta.
4. Faktor umbilikal, meliputi prolaps tali pusat, lilitan tali pusat.
5. Faktor janin, meliputi disproporsi sefalopelvis, kelainan kongenital, kesulitan kelahiran.
E. MANIFESTASI KLINIK
1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
• Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
• Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
• Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
2. Pada bayi setelah lahir
a. Bayi pucat dan kebiru-biruan
b. Usaha bernafas minimal atau tidak ada
c. Hipoksia
d. Asidosis metabolik atau respiratori
e. Perubahan fungsi jantung
f. Kegagalan sistem multiorgan
g. Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.

F. PATOFISIOLOGI
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun, tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.

G. FATHWAYS


G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
1. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
2. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
3.Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
4. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

H. PENATALAKSANAAN
Pada neonatus dengan asfiksia, resusitasi diberikan secepat mungkin tanpa menunggu penghitungan score APGAR. Langkah resuaitasi mengikuti ABC.
A: Pertahankan jalan nafas bebas, jika perlu dengan intubasi endotrakeal;
B: Bangkitkaan nafas spontan dengan stimulasi taktil atau tekanan positif engan menggunakan bag and mask atau lewat pipa endotrakeal;
C: Pertahankan sirkulasi jika prlu dengan kompresi dada dan obat-obatan
Pada asfiksia ringan, berikan bantuan nafas deengan oksigen 100% melalui bag and mask selama 15-30 detik. Bila dalam waktu 30 detik denyut nadi masih dibawah 80x/menit, lakukan kompesi dada ngan duaa jari pada ⅓ bawah sternum sebanyak 120x/menit.
Intubasi endotrakeal harus dilakukan (oleh tenaga terlatih) pada bayi yang tidak memberi respon terhadap bantuan nafas dengan bag and mask atau pada bayi dengan asfiksia berat.
Terapi mdikamentosa diberikan bila denyut nadi masih dibawah 80x/menit setelah 30 detik kombinasi bantuan nafas dan kompresi dda atau dalam keadaan asistol. Berikan adrenalin 1: 10.000 dosis 0,1 – 0,3 ml/kg BB intravena/intrtrakeal, dapat diulangi tiap 3-5 menit. Pada respon yang buruk terhadap resussitasi, hipovolemia, hipotensi, dan riwayat perdarahan berikan 10 ml/kg BB cairan infuse (NaCl 10,9%, RL atau darah). Jika hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan asidosis metabolic, berikan natrium bikarbonat 2 mEq/kg BB perlahan-lahan. Natrium bikarbonat diberikan hanya setelah terjadi ventilasi yang efektif karena dapat meningkatkan CO2 darah sehingga timbul asidosis respiratorik.
Asfiksia berat dapat mencetuskan syok kardiogenik. Pada keadaan ini diberikan dopamine atau dobutamin perinfus 5-20 ug/kgBB/menit setlah sebelumnya dibrikan volume expander. Adrenalin 0,1 ug/kgBB/menit dapat dibrikan pada bayi yang tidak responsive terhadap dopamine atau dobutamin. Bila trdapat riwayat pemberian analgesic narkotik pada ibu saat hamil, berikan Narcan (nalokson) 0,1 mg/kgBB subkutan/im/iv/melalui pipa endotrakeal.

I. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
• Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
• Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
• Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
• Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
2. Eliminasi
• Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
• Berat badan : 2500-4000 gram
• Panjang badan : 44-45 cm
• Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
4. Neurosensori
• Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
• Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
• Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
5. Pernafasan
• Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
• Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
• Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
• Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi).
• Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal).

J. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
2. Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
3. Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigen-antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.


K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
I. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi mukus banyak.
II. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi/ hiperventilasi.
III. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
IV. Risiko cedera berhubungan dengan anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
V. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
VI. Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.

L. INTERVENSI
I. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan jalan nafas lancar.
NOC I : Status Pernafasan : Kepatenan Jalan Nafas
Kriteria Hasil :
1. Tidak menunjukkan demam.
2. Tidak menunjukkan cemas.
3. Rata-rata repirasi dalam batas normal.
4. Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.
5. Tidak ada suara nafas tambahan.
NOC II : Status Pernafasan : Pertukaran Gas
Kriteria Hasil :
1. Mudah dalam bernafas.
2. Tidak menunjukkan kegelisahan.
3. Tidak adanya sianosis.
4. PaCO2 dalam batas normal.
5. PaO2 dalam batas normal.
6. Keseimbangan perfusi ventilasi
NIC I : Suction jalan nafas
Intevensi :
1. Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
2. Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction .
3. Beritahu keluarga tentang suction.
4. Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai dilakukan.
5. Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction.
NIC II : Resusitasi : Neonatus
1. Siapkan perlengkapan resusitasi sebelum persalinan.
2. Tes resusitasi bagian suction dan aliran O2 untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik.
3. Tempatkan BBL di bawah lampu pemanas radiasi.
4. Masukkan laryngoskopy untuk memvisualisasi trachea untuk menghisap mekonium.
5. Intubasi dengan endotracheal untuk mengeluarkan mekonium dari jalan nafas bawah.
6. Berikan stimulasi taktil pada telapak kaki atau punggung bayi.
7. Monitor respirasi.
8. Lakukan auskultasi untuk memastikan vetilasi adekuat.
II. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pola nafas menjadi efektif.
NOC : Status respirasi : Ventilasi
Kriteria hasil :
1. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.
2. Ekspansi dada simetris.
3. Tidak ada bunyi nafas tambahan.
4. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen jalan nafas
Intervensi :
1) Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender.
2) Pantau status pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
3) Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi.
4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alan bantu nafas
5) Siapkan pasien untuk ventilasi mekanik bila perlu.
6) Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
III. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi.
NOC : Status respiratorius : Pertukaran gas
Kriteria hasil :
1. Tidak sesak nafas
2. Fungsi paru dalam batas normal
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen asam basa
Intervensi :
1) Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
2) Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
3) Pantau hasil Analisa Gas Darah
IV. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah.
NOC : Pengetahuan : Keamanan Anak
Kriteria hasil :
1. Bebas dari cidera/ komplikasi.
2. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak.
3. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama.
Keterangan Skala :
1 : Tidak sama sekali
2 : Sedikit
3 : Agak
4 : Kadang
5 : Selalu
NIC : Kontrol Infeksi
Intervensi :
1. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah merawat bayi.
2. Pakai sarung tangan steril.
3. Lakukan pengkajian fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali pusat dan adanya anomali.
4. Ajarkan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan.
5. Berikan agen imunisasi sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis B bila serum ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag), antigen inti hepatitis B (Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).
V. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal.
NOC I : Termoregulasi : Neonatus
Kriteria Hasil :
1. Temperatur badan dalam batas normal.
2. Tidak terjadi distress pernafasan.
3. Tidak gelisah.
4. Perubahan warna kulit.
5. Bilirubin dalam batas normal.
NIC I : Perawatan Hipotermi
Intervensi :
1. Hindarkan pasien dari kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
2. Monitor gejala yang berhubungan dengan hipotermi, misal fatigue, apatis, perubahan warna kulit dll.
3. Monitor temperatur dan warna kulit.
4. Monitor TTV.
5. Monitor adanya bradikardi.
6. Monitor status pernafasan.
NIC II : Temperatur Regulasi
Intervensi :
1. Monitor temperatur BBL setiap 2 jam sampai suhu stabil.
2. Jaga temperatur suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
3. Tempatkan BBL pada inkubator bila perlu.
VI. Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat.
NOC I : Koping keluarga
Kriteria Hasil :
1. Percaya dapat mengatasi masalah.
2. Kestabilan prioritas.
3. Mempunyai rencana darurat.
4. Mengatur ulang cara perawatan.
Keterangan skala :
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan
NOC II : Status Kesehatan Keluarga
Kriteria Hasil :
1. Status kekebalan anggota keluarga.
2. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan.
3. Akses perawatan kesehatan.
4. Kesehatan fisik anggota keluarga.
Keterangan Skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Pemeliharaan proses keluarga
Intervensi :
1. Tentukan tipe proses keluarga.
2. Identifikasi efek pertukaran peran dalam proses keluarga.
3. Bantu anggota keluarga untuk menggunakan mekanisme support yang ada.
4. Bantu anggota keluarga untuk merencanakan strategi normal dalam segala situasi.
NIC II : Dukungan Keluarga
Intervensi :
1. Pastikan anggota keluarga bahwa pasien memperoleh perawat yang terbaik.
2. Tentukan prognosis beban psikologi dari keluarga.
3. Beri harapan realistik.
4. Identifikasi alam spiritual yang diberikan keluarga.



DAFTAR PUSTAKA

- Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
- Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika
- Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : Prima Medika.
- Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Criteria Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC
- Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC
- Saifudin. A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
- Straight. B. R. 2004. Keperawatan Ibu Baru Lahir. Edisi 3. Jakarta : EGC
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahuluan Hernia

Definisi
Hernia adalah penonjolan peritoneum parietale yang berisi viskus melalui bagian yang lemah pada dinding abdomen.
Pada hernia selalu ada 3 unsur, yaitu:
1. Kantung hernia (peritoneum parietale)
2. Isi (viskus: organ/jaringan yang keluar melalui kantung hernia)
3. Pintu/hernia (locus minorus resisten)

Klasifikasi
Hernia congenital:
- Hernia umbilikalis
- Hernia diafragnatika
- Hernia inguinalis lateralis
Hernia didapat:
- hernia inguinalis medialis
- Hernia femoralis
Secara Klinis:
- Reponibilis: hernia yang masih dapat keluar masuk
- Irreponibilis: Hernia yang sudah tidak dapat masuk, viskus melekat pada kantung dan ada infeksi
- Strangulasi: hernia yang terjadi karena terjepitnya pembuluh dapat tapi masih mendapat nutrisi/ terdapat gangguan vascularisasi
- Incarserata: lumen terjepit sehingga tidak mendapat nutrisi, terjadi parase usus

Etiologi:
Hernia congenital
- Processus vaginalis peritoneum persisten
- Testis tidak sampai scrotum, sehingga processus tetap terbuka
- Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutup dan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka
- Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri terlebih dahulu
- Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa
- Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele
Hernia didapat:
Ada faktor predisposisi
- Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa
- Pada orang tua karena degenerasi/atropi
Faktor predisposisi:
- Tekanan intra abdomen meningkat
- Pekerjaan mengangkat benda-benda berat
- Batuk kronik
- Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras
- Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis
- Sering melahirkan: hernia femoralis

Diagnosa
Anamnesa
-Timbul benjolan di lipat paha yang hilang timbul
-Penonjolan dapat timbul bila tekanan intra abdomen naik
-Benjolan dapat hilang jika pasien tiduran atau dimasukkan dengan tangan (manual)
-Nyeri
Pemeriksaan fisik
Benjolan pada lipat paha atau scrotum dengan batas atas tidak jelas, bising usus (+), transiluminasi (-)
Rontgen foto

Hernia Inguinalis Medialis
Definisi
Merupakan hernia yang berjalan melalui dinding inguinal belakang, medial dari vasa epigastrika inferior ke daerah yang dibatasi trigonum Hasselbachii.


Locus Minorus Resisten
Trigonum Hasselbachii (pada fovea inguinalis medialis) sebelah dorsal dari annulus inguinalis medialis.
Trigonum Hsselbachii dibatasi oleh:
Cudal: ligamentum inguinale
Lateral: vasa epigastrica inferior
Medial: tepi lateral m.rectus abdominalis
Bentuk biasanya bulat.

Penatalaksanaan
Prinsipnya untuk mencegah inkarserasi atau strangulasi semua hernia harus direpair, kecuali hernia direc yang kecil.
Konservatif:
- Hanya dilakukan pada keadaan yang masih reponibel.
- Dengan cara mengatasi factor-faktor predisposisi bukan penatalaksanaan yang ideal.
- Pada anak-anak dengan hernia indirect irreponibel diberi terapi konservatif dengan:
@ obat penenang (valium)
@ posisi trandelenburg
@ kompres es
Operatif:
Jenis operasi:
1. Herniotomi: pembebasan kantung hernia sampai pada lehernya, kantung dibuka dan isi hernia dibebaskan
2. Hernioplasti: memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
3. Herniografi: membuat plasty di abdomen sehingga LMR menjadi kuat.
Penanganan pasca opersi:
1. Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya hematoma.
2. Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang.
3. Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.
4. Dalam waktu 1 bulan jangan mengangkut barang yang berat.
5. Selama waktu 3 bulan tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat menaikkan tekanan intra abdomen.

Komplikasi
1. Perlekatan
2. H. Irreponibilis
3. Terjadinya jepitan menyebabkan isckemi
4. Infeksi yang dapat menimbulkan nekrose
5. Opstipasi
6. H.incarserata
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahulaun Thipoid

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN ANAK DENGAN THIPOID

A. PENGERTIAN
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
Tifus abdominalis adalah suatu infeksi sistem yang ditandai demam, sakit kepala, kelesuan, anoreksia, bradikardi relatif, kadang-kadang pembesaran dari limpa/hati/kedua-duanya. (Samsuridjal D dan heru S, 2003)

B. PENYEBAB
Salmonella typhi yang menyebabkan infeksi invasif yang ditandai oleh demam, toksemia, nyeri perut, konstipasi/diare. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia dan kematian. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)
Etiologi demam tifoid dan demam paratipoid adalah S.typhi, S.paratyphi A, S.paratyphi b dan S.paratyphi C. (Arjatmo Tjokronegoro, 1997)

C. PATOFISIOLOGIS
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier.
Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman ke makanan, susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi) yang andal. (Samsuridjal D dan heru S, 2003)
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)
PATHWAYS

Salmonella typhosa

Saluran pencernaan

Diserap oleh usus halus

Bakteri memasuki aliran darah sistemik

Kelenjar limfoid Hati Limpa Endotoksin
usus halus

Tukak Hepatomegali Splenomegali Demam

Pendarahan dan Nyeri perabaan
perforasi Mual/tidak nafsu makan

Perubahan nutrisi

Resiko kurang volume cairan

(Suriadi & Rita Y, 2001)





D. GEJALA KLINIS
Gejala klinis pada anak umumnya lebih ringan dan lebih bervariasi dibandingkan dengan orang dewasa. Walaupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi, tetapi secara garis besar terdiri dari demam satu minggu/lebih, terdapat gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi, serta suhu badan yang meningkat.
Pada minggu kedua maka gejala/tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung, bisa disertai gangguan kesadaran dari ringan sampai berat. Lidah tifoid dan tampak kering, dilapisi selaput kecoklatan yang tebal, di bagian ujung tepi tampak lebih kemerahan. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)
Sejalan dengan perkembangan penyakit, suhu tubuh meningkat dengan gambaran ‘anak tangga’. Menjelang akhir minggu pertama, pasien menjadi bertambah toksik. (Vanda Joss & Stephen Rose, 1997)
Gambaran klinik tifus abdominalis
Keluhan:
- Nyeri kepala (frontal) 100%
- Kurang enak di perut 50%
- Nyeri tulang, persendian, dan otot 50%
- Berak-berak 50%
- Muntah 50%
Gejala:
- Demam 100%
- Nyeri tekan perut 75%
- Bronkitis 75%
- Toksik 60%
- Letargik 60%
- Lidah tifus (“kotor”) 40%
(Sjamsuhidayat,1998)
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus
3. Pemeriksaan Uji Widal
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:
• Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri
• Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri
• Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter.
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. (Widiastuti Samekto, 2001)

F. TERAPI
1. Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapat diberikan secara oral atau intravena, sampai 7 hari bebas panas
2. Tiamfenikol. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.
3. Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim)
4. Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu
5. Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari

6. Golongan Fluorokuinolon
• Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
• Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
• Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
• Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
• Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
7. Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001)

G. KOMPLIKASI
Perdarahan usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, ensefalopati, bronkopneumonia, hepatitis. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000)
Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung.Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. Pielonefritis, endokarditis, meningitis, osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. (Behrman Richard, 1992)



H. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DEMAM TIPOID

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat keperawatan
2. Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epistaksis, penurunan kesadaran

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual, dan kembung
3. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan, dan peningkatan suhu tubuh

C. PERENCANAAN
1. Mempertahankan suhu dalam batas normal
• Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia
• Observasi suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan
• Berri minum yang cukup
• Berikan kompres air biasa
• Lakukan tepid sponge (seka)
• Pakaian (baju) yang tipis dan menyerap keringat
• Pemberian obat antipireksia
• Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat

2. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan
• Menilai status nutrisi anak
• Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
• Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
• Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
• Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama
• Mempertahankan kebersihan mulut anak
• Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
• Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak

3. Mencegah kurangnya volume cairan
• Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap 4 jam
• Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan: turgor tidak elastis, ubun-ubun cekung, produksi urin menurun, memberan mukosa kering, bibir pecah-pecah
• Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
• Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
• Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible Water Loss/IWL) dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge
• Memberikan antibiotik sesuai program
(Suriadi & Rita Y, 2001)



I. DISCHARGE PLANNING
1. Penderita harus dapat diyakinkan cuci tangan dengan sabun setelah defekasi
2. Mereka yang diketahui sebagai karier dihindari untuk mengelola makanan
3. Lalat perlu dicegah menghinggapi makanan dan minuman.
4. Penderita memerlukan istirahat
5. Diit lunak yang tidak merangsang dan rendah serat
(Samsuridjal D dan Heru S, 2003)
6. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak
7. Jelaskan terapi yang diberikan: dosis, dan efek samping
8. Menjelaskan gejala-gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut
9. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan.
(Suriadi & Rita Y, 2001)


DAFTAR PUSTAKA

1. Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit Media Aesculapius. FKUI Jakarta. 2000.
2. Arjatmo Tjokronegoro & Hendra Utama. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke Tiga. FKUI. Jakarta. 1997.
3. Behrman Richard. Ilmu Kesehatan Anak. Alih bahasa: Moelia Radja Siregar & Manulang. Editor: Peter Anugrah. EGC. Jakarta. 1992.
4. Joss, Vanda dan Rose, Stephan. Penyajian Kasus pada Pediatri. Alih bahasa Agnes Kartini. Hipokrates. Jakarta. 1997.
5. Ranuh, Hariyono dan Soeyitno, dkk. Buku Imunisasi Di Indonesia, edisi pertama. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2001.
6. Samsuridjal Djauzi dan Heru Sundaru. Imunisasi Dewasa. FKUI. Jakarta. 2003.
7. Sjamsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. EGC. Jakarta. 1998.
8. Soegeng Soegijanto. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba Medika. Jakarta. 2002.
9. Suriadi & Rita Yuliani. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. CV Sagung Seto. Jakarta. 2001.
10. Widiastuti Samekto. Belajar Bertolak dari Masalah Demam Typhoid. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. 2001.
11. http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2005/02/03brk
http://www.rina-astuty.blogspot.com/
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahuluan Berat Badan Bayi Lahir Rendah

A. PENGERTIAN
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.
Dalam hal ini dibedakan menjadi :
1. Prematuritas murni
Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

B. ETIOLOGI
Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :
1. Faktor ibu
 Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diaatas 35 tahun
 Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
 Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok
2. Faktor kehamilan
 Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
 Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini
3. Faktor janin
 Cacat bawaan, infeksi dalam rahim
4. Faktor yang masih belum diketahui

C. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Prematuritas murni
 BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
 Masa gestasi < 37 minggu
 Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
 Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
 Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
 Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
 Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
 Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
 Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah
 Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik
 Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna

2. Dismaturitas
 Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
 Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
 Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
 Tali pusat berwarna kuning kehijauan

D. KOMPLIKASI
 Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
 Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
 Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
 Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah
 Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
 Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
 Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
 Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
 Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
 Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat


Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

LAPORAN PENDAHULUAN TETANUS

A. Definisi :
 Tetanus adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh Clostridium tetani (Kapita selekta Kedokteran, 2000)
 Tetanus adalah manifestasi sistemik yang disebabkan oleh absorbsi eksotoksin sangat kuat yang dilepaskan ole clostridium tetani pada masa pertumbuhan aktif dalam tubuh manusia.
 Tetanus adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh clostridium tetani yang menghasilkan exotoksin

B. Masalah Keperawatan dan Masalah Kolaborasi
Masalah keperawatan
1. Tidak efektifnya jalan napas.
2. Resiko gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
3. Resiko tinggi injury
4. Kecemasan
5. Resiko kuranngnya volume cairan Masalah kolaborasi
Potensial komplikasi :
1. Asfiksia
2. Ateletaksis
3. Fraktur kompresi

C. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan fisik: adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang.
2. Pemeriksaan darah: kalsium dan fosfat.

D. Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas berhubungan dengan meningkatnya produksi sekret / mukus kerena spasme otot laring.
2. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekakuan otot – otot rahang dan kesukaran menelan.
3. Resiko tinggi terjadi injury berhubungan dengan epistotonus, aktifitas kejang.
4. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit anaknya.
5. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang kurang

E. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan 1: Tidak efektifnya kebersihan jalan napas berhubungan dengan meningkatnya produksi sekret / mukus kerena spasme otot laring.
Tujuan : anak akan memperlihatkan jalan napas yang efektif dengan kriteria : napas lancar.
Intervensi :
a. Kaji status pernapasan, seperti: kedalama, frekuensi, irama, kerja otot-otot pernapasan, tiap 2 – 4 jam atau sesuai protokol.
b. Auskultasi bunyi napas: ronchi dan bunyi tambahan.
c. Lakukan csuction / penghisapan lendir dengan hati- hati dan pasti.
d. Kolaborasi pemberian O2 sesuai program terapi.

2. Diagnosa Keperawatan 2 : Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekakuan otot – otot rahang dan kesukaran menelan
Tujuan : Nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan.
Intervensi:
a. Kaji status nutrisi.
b. Observasi dan catat intake makanan dan output.
c. Kaji bising usus bila perlu dan hati hati karena sentuhan pada anak bisa menyebabkan kejang.
d. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein.
e. Timbang BB sesuai dengan protokol.
f. Kolaborasi dalam pemberian nutrisi parenteral dan NGT bila diperlukan.


3. Diagnosa Keperawatan 3 : Resiko tinggi terjadi injury berhubungan dengan epistotonus, aktifitas kejang.
Tujuan : tidak terjadi injury pada anak dengan kriteria kejang (-), epistotonus (-)
Intervensi :
a. Pasang pengaman / penghalang tempat tidur.
b. Tempatkan anak pada tempat tidur / pengalas yang lembut.
c. Kaji stimulus yang dapat menyebabkan kejang.
d. Minimalkan hal- hal yang bisa meningkatkan rangsangan kejang: suara, sianr yang terang, sentuhan yang berlebih.
e. Anak harus diistirahatkan dan tempatkan pada ruangan khusus.
f. Antisipasi prosedur yang dapat merangsang untuk terjadinya kejang.
g. Hindarkan / singkirkan benda yang dapat membahayakan anak.
h. Pasang sudip lidah jika terjadi kejang pada anak.
i. Posisikan anak dengan posisi miring ke samping saat anak kejang untuk mencegah lidah jatuh kebelakang yang dapat menyebabkan obstruksi jalan napas.
j. Jangan gunakan restrain pada anak.
k. Catat aktifitas kejang: frekuensi, lamanya, faktor pencetusnya.
l. Pantau pernapasan selama kejang, buka baju yang dapat mengganggu saat kejang.
m. Kolaborasi dalam pemebrian obat-obatan: antikejang dan antibiotik.

4. Diagnosa keperawatan 4 :Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit anaknya.
Tujuan : mengurangi rasa cemas pada orang tua dengan meningkatkan pengetahuan orang tua.
Intervensi :
a. Gunakan komunikasi dan sentuhan yang terapeutik.
b. Jelaskan tentang semua prosedur yang akan dilakukan.
c. Jelaskan tentang aktifitas kejang yang terjadi pada anak dan hal-hal yang dapat merangsang kejang: suara, sentuhan- sentuhan, sinar lampu yang sangat terang.
d. Jelaskan tentang penanganan tentang penanganan kejang untuk menghindari injury seperti pasang sudip lidah, miringkan kesamping untuk drainage.
e. Jelaskan perlunya lingkungan yang tenang.
f. Jelaskan perawatan yang perlu dilakukan oleh ortu pada anak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
g. Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya tentang keadaan anaknya.

5. Diagnosa Keperawatan 5 : Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang kurang
Tujuan : status hidrasi anak meningkat.
Intervensi :
a. Kaji intake dan output.
b. Kaji tanda- tanda dehidrasi : ubun – ubun , membran mukosa dan turgor kulit.
c. Berikan dan pertahankan intake cairan oral / perparenteral sesuai indikasi.
d. Monitor berat jenis urine.
e. Pertahankan kepatenan NGT.

Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Laporan Pendahuluan Persalinan Normal

PERSALINAN NORMAL

A. PENGERTIAN
Persalinan adalah proses pengeluaran bayi dengan usia kehamilan cukup bulan, letak memanjang atau sejajar sumbu badan ibu, presentase belakang kepala, keseimbangan diameter kepala bayi dan panggul ibu, serta ddengan tenaga ibu sendiri. (abdul bari; 2008)
Persalinan adalah suatu proses terjadinya pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. (Mitayani, 2009).
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Prawirohardjo, 2006).

B. ETIOLOGI PERSALINAN NORMAL
1. Penurunan kadar progesterone
Progesterone menimbulakan relaksi otot-otot rahim. Sebaliknya estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terhadap keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun, sehingga timbul his.
2. Teori oxytosin
Pada akhir kehamilan kadar oxytosin bertambah. Oleh karena itu, timbul kontraksi otot-otot rahim.
3. Keregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian puladengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot rahim makin rentan
4. Pengaruh janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya memegang peranan oleh karena pada anenchephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
5. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu permulaan persalinan.


C. PATHWAYS PERSALINAN NORMAL


D. TANDA DAN GEJALA PERSALINAN NORMAL
a. tanda-tanda permulaan persalinan
1. Lightening atau dropping atau settling yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida, menjelang minggu ke – 36. pada multigravida tidak begitu kentara, karena kepala janin baru masuk pintu atas panggul menjelang persalinan
2. Perut kelihatan melebar, fundus uteri turun
3. Perasaan sering kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin
4. Perasaan sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi – kontraksi lemah dari uterus, disebut ”false labor pains” atau his permulaan.
b. tanda-tanda persalinan
1. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek, pinggang terasa sakit yang menjalar ke perut.
2. Dapat terjadi pengeluaran lendir dan lendir bercampur darah atau ”bloody show”.
3. Kadang – kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4. Pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks :
a. Pelunakan serviks
b. Pendataran serviks
c. Terjadi pembukaan serviks

FAKTOR-FAKTOR PENTING DALAM PERSALINAN
1. Jalan lahir (Passage)
a. Bagian keras : tulang – tulang panggul
b. Bagian lunak : Otot – otot, jaringan – jaringan dan ligamen - ligamen
2. Janin ( Passenger )
a. Letak janin (situs)
b. Besar janin
c. Presentasi janin (presentation)
d. Posisi janin (position)
e. Sikap janin (habitus)
3. Tenaga (Power )
a. His ( kontraksi uterus )
b. Kontraksi otot – otot perut
c. Kontraksi diafragma
d. Aksi dari ligamentum







E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium rutin (Hb dan urinalisis serta protein urine).
2. Pemeriksaan laboratorium khusus.
3. Pemeriksaan ultrasonografi.
4. Pemantauan janin dengan kardiotokografi.
5. Amniosentesis dan Kariotiping.
F. PENATALAKSANAAN MEDIS

PENATALAKSANAAN PERSALINAN KALA I
1. Berikan dukungan dan suasana yang menyenangkan bagi parturien
2. Berikan informasi mengenai jalannya proses persalinan kepada parturien dan pendampingnya.
3. Pengamatan kesehatan janin selama persalinan
1. Pada kasus persalinan resiko rendah, pada kala I DJJ diperiksa setiap 30 menit dan pada kala II setiap 15 menit setelah berakhirnya kontraksi uterus ( his ).
2. Pada kasus persalinan resiko tinggi, pada kala I DJJ diperiksa dengan frekuensi yang lbih sering (setiap 15 menit ) dan pada kala II setiap 5 menit.
4. Pengamatan kontraksi uterus
1. Meskipun dapat ditentukan dengan menggunakan kardiotokografi, namun penilaian kualitas his dapat pula dilakukan secara manual dengan telapak tangan penolong persalinan yang diletakkan diatas abdomen (uterus) parturien.
5. Tanda vital ibu
1. Suhu tubuh, nadi dan tekanan darah dinilai setiap 4 jam.
2. Bila selaput ketuban sudah pecah dan suhu tubuh sekitar 37.50 C (“borderline”) maka pemeriksaan suhu tubuh dilakukan setiap jam.
3. Bila ketuban pecah lebih dari 18 jam, berikan antibiotika profilaksis.
6. Pemeriksaan VT berikut
1. Pada kala I keperluan dalam menilai status servik, stasion dan posisi bagian terendah janin sangat bervariasi.
2. Umumnya pemeriksaan dalam (VT) untuk menilai kemajuan persalinan dilakukan tiap 4 jam.
3. Indikasi pemeriksaan dalam diluar waktu yang rutin diatas adalah:
1) Menentukan fase persalinan.
2) Saat ketuban pecah dengan bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul.
3) Ibu merasa ingin meneran.
4) Detik jantung janin mendadak menjadi buruk (< 120 atau > 160 dpm).
7. Makanan oral
a. Sebaiknya pasien tidak mengkonsumsi makanan padat selama persalinan fase aktif dan kala II. Pengosongan lambung saat persalinan aktif berlangsung sangat lambat.
b. Penyerapan obat peroral berlangsung lambat sehingga terdapat bahaya aspirasi saat parturien muntah.
c. Pada saat persalinan aktif, pasien masih diperkenankan untuk mengkonsumsi makanan cair.
8. Cairan intravena
a. Keuntungan pemberian cairan intravena selama inpartu:
a) Bilamana pada kala III dibutuhkan pemberian oksitosin profilaksis pada kasus atonia uteri.
b) Pemberian cairan glukosa, natrium dan air dengan jumlah 60–120 ml per jam dapat mencegah terjadinya dehidrasi dan asidosis pada ibu.
9. Posisi ibu selama persalinan
a. Pasien diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih posisi yang paling nyaman bagi dirinya.
b. Berjalan pada saat inpartu tidak selalu merupakan kontraindikasi.
10. Analgesia
a. Kebutuhan analgesia selama persalinan tergantung atas permintaan pasien.
11. Lengkapi partogram
a. Keadaan umum parturien ( tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan ).
b. Pengamatan frekuensi – durasi – intensitas his.
c. Pemberian cairan intravena.
d. Pemberian obat-obatan.
12. Amniotomi
a. Bila selaput ketuban masih utuh, meskipun pada persalinan yang diperkirakan normal terdapat kecenderungan kuat pada diri dokter yang bekerja di beberapa pusat kesehatan untuk melakukan amniotomi dengan alasan:
a) Persalinan akan berlangsung lebih cepat.
b) Deteksi dini keadaan air ketuban yang bercampur mekonium ( yang merupakan indikasi adanya gawat janin ) berlangsung lebih cepat.
c) Kesempatan untuk melakukan pemasangan elektrode pada kulit kepala janin dan prosedur pengukuran tekanan intrauterin.
b. Namun harus dingat bahwa tindakan amniotomi dini memerlukan observasi yang teramat ketat sehingga tidak layak dilakukan sebagai tindakan rutin.
13. Fungsi kandung kemih
a. Distensi kandung kemih selama persalinan harus dihindari oleh karena dapat:
a) Menghambat penurunan kepala janin
b) Menyebabkan hipotonia dan infeksi kandung kemih
c) Carley dkk (2002) menemukan bahwa 51 dari 11.322 persalinan pervaginam mengalami komplikasi retensio urinae ( 1 : 200 persalinan ).
d) Faktor resiko terjadinya retensio urinae pasca persalinan:
1. Persalinan pervaginam operatif
2. Pemberian analgesia regional
PENATALAKSANAAN PERSALINAN KALA II
Tujuan penatalaksanaan persalinan kala II :
1. Mencegah infeksi traktus genitalis melalui tindakan asepsis dan antisepsis.
2. Melahirkan “well born baby”.
3. Mencegah agar tidak terjadi kerusakan otot dasar panggul secara berlebihan.
Penentuan kala II : Ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan vaginal toucher yang acapkali dilakukan atas indikasi :
1. Kontraksi uterus sangat kuat dan disertai ibu yang merasa sangat ingin meneran.
2. Pecahnya ketuban secara tiba-tiba.
Pada kala II sangat diperlukan kerjasama yang baik antara parturien dengan penolong persalinan.
1. Persiapan :
1. Persiapan set “pertolongan persalinan” lengkap.
2. Meminta pasien untuk mengosongkan kandung kemih bila teraba kandung kemih diatas simfisis pubis.
3. Membersihkan perineum, rambut pubis dan paha dengan larutan disinfektan.
4. Meletakkan kain bersih dibagian bawah bokong parturien.
5. Penolong persalinan mengenakan peralatan untuk pengamanan diri ( sepatu boot, apron, kacamata pelindung dan penutup hidung & mulut).
2. Pertolongan persalinan :
1. Posisi pasien sebaiknya dalam keadaan datar diatas tempat tidur persalinan.
2. Untuk pemaparan yang baik, digunakan penahan regio poplitea yang tidak terlampau renggang dengan kedudukan yang sama tinggi.
3. Persalinan kepala:
1. Setelah dilatasi servik lengkap, pada setiap his vulva semakin terbuka akibat dorongan kepala dan terjadi “crowning”.
2. Anus menjadi teregang dan menonjol. Dinding anterior rektum biasanya menjadi lebih mudah dilihat.
3. Bila tidak dilakukan episiotomi, terutama pada nulipara akan terjadi penipisan perineum dan selanjutnya terjadi laserasi perineum secara spontan.
4. Episotomi tidak perlu dilakukan secara rutin dan hendaknya dilakukan secara individual atas sepengetahuan dan seijin parturien.
4. Membersihkan nasopharynx:
Perlu dilakukan tindakan pembersihan muka , hidung dan mulut anak setelah dada lahir dan anak mulai mengadakan inspirasi,
5. Lilitan talipusat
Setelah bahu depan lahir, dilakukan pemeriksaan adanya lilitan talipusat dileher anak dengan menggunakan jari telunjuk. Lilitan talipusat terjadi pada 25% persalinan dan bukan merupakan keadaan yang berbahaya. Bila terdapat lilitan talipusat, maka lilitan tersebut dapat dikendorkanmelewati bagian atas kepala dan bila lilitan terlampau erat atau berganda maka dapat dilakukan pemotongan talipusat terlebih dulu setelah dilakukan pemasangan dua buah klem penjepit talipusat.
6. Menjepit talipusat:
Klem penjepit talipusat dipasang 4–5 cm didepan abdomen anak dan penjepit talipusat (plastik) dipasang dengan jarak 2–3 cm dari klem penjepit. Pemotongan dilakukan diantara klem dan penjepit talipusat.

PENATALAKSANAAN PERSALINAN KALA III
Persalinan Kala III adalah periode setelah lahirnya anak sampai plasenta lahir.
Segera setelah anak lahir dilakukan penilaian atas ukuran besar dan konsistensi uterus dan ditentukan apakah ini aalah persalinan pada kehamilan tunggal atau kembar.
Bila kontraksi uterus berlangsung dengan baik dan tidak terdapat perdarahan maka dapat dilakukan pengamatan atas lancarnya proses persalinan kala III.
Penatalaksanaan kala III FISIOLOGIK :
Tehnik melahirkan plasenta :
1. Tangan kiri melakukan elevasi uterus (seperti tanda panah) dengan tangan kanan mempertahankan posisi talipusat.
2. Parturien dapat diminta untuk membantu lahirnya plasenta dengan meneran.
3. Setelah plasenta sampai di perineum, angkat keluar plasenta dengan menarik talipusat keatas.
4. Plasenta dilahirkan dengan gerakan memelintir plasenta sampai selaput ketuban agar selaput ketuban tidak robek dan lahir secara lengkap oleh karena sisa selaput ketuban dalam uterus dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pasca persalinan.

Penatalaksanaan kala III AKTIF :
Penatalaksanaan aktif kala III ( pengeluaran plasenta secara aktif ) dapat menurunkan angka kejadian perdarahan pasca persalinan.
Penatalaksanaan aktif kala III terdiri dari :
1. Pemberian oksitosin segera setelah anak lahir
2. Tarikan pada talipusat secara terkendali
Masase uterus segera setelah plasenta lahir
Tehnik :
1. Setelah anak lahir, ditentukan apakah tidak terdapat kemungkinan adanya janin kembar.
2. Bila ini adalah persalinan janin tunggal, segera berikan oksitosin 10 U i.m (atau methergin 0.2 mg i.m bila tidak ada kontra indikasi)
3. Regangkan talipusat secara terkendali (“controlled cord traction”):
a. Telapak tangan kanan diletakkan diatas simfisis pubis. Bila sudah terdapat kontraksi, lakukan dorongan bagian bawah uterus kearah dorsokranial Tangan kiri memegang klem talipusat , 5–6 cm didepan vulva.
b. Pertahankan traksi ringan pada talipusat dan tunggu adanya kontraksi uterus yang kuat.
c. Setelah kontraksi uterus terjadi, lakukan tarikan terkendali pada talipusat sambil melakukan gerakan mendorong bagian bawah uterus kearah dorsokranial.
PENATALAKSANAAN PERSALINAN KALA IV
2 jam pertama pasca persalinan merupakan waktu kritis bagi ibu dan neonatus. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik luar biasa dimana ibu baru melahirkan bayi dari dalam perutnya dan neonatus sedang menyesuaikan kehidupan dirinya dengan dunia luar.
Petugas medis harus tinggal bersama ibu dan neonatus untuk memastikan bahwa keduanya berada dalam kondisi stabil dan dapat mengambil tindakan yang tepat dan cepat untuk mengadakan stabilisasi.
Langkah-langkah penatalaksanaan persalinan kala IV:
1. Periksa fundus uteri tiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.
2. Periksa tekanan darah – nadi – kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam kedua.
3. Anjurkan ibu untuk minum dan tawarkan makanan yang dia inginkan.
4. Bersihkan perineum dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering.
5. Biarkan ibu beristirahat.
6. Biarkan ibu berada didekat neonatus.
7. Berikan kesempatan agar ibu mulai memberikan ASI, hal ini juga dapat membantu kontraksi uterus .
8. Bila ingin, ibu diperkenankan untuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Pastikan bahwa ibu sudah dapat buang air kecil dalam waktu 3 jam pasca persalinan.
9. Berikan petunjuk kepada ibu atau anggota keluarga mengenai:
1) Cara mengamati kontraksi uterus.
2) Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan neonatus.
Ibu yang baru bersalin sebaiknya berada di kamar bersalin selama 2 jam dan sebelum dipindahkan ke ruang nifas petugas medis harus yakin bahwa:
1. Keadaan umum ibu baik.
2. Kontraksi uterus baik dan tidak terdapat perdarahan.
3. Cedera perineum sudah diperbaiki.
4. Pasien tidak mengeluh nyeri.
5. Kandung kemih kosong.


G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN PERSALINAN NORMAL
1. Identitas pasien
1. Nama , alamat dan usia pasien dan suami pasien.
2. Pendidikan dan pekerjaan pasien dan suami pasien.
3. Agama, suku bangsa pasien dan suami pasien.
2. Anamnesa obstetri
1. Kehamilan yang ke …..
2. Hari pertama haid terakhir-HPHT ( “last menstrual periode”-LMP )
3. Riwayat obstetri:
1. Usia kehamilan : ( abortus, preterm, aterm, postterm ).
2. Proses persalinan ( spontan, tindakan, penolong persalinan ).
3. Keadaan pasca persalinan, masa nifas dan laktasi.
4. Keadaan bayi ( jenis kelamin, berat badan lahir, usia anak saat ini ).
4. Pada primigravida :
1. Lama kawin, pernikahan yang ke ….
2. Perkawinan terakhir ini sudah berlangsung …. Tahun.
3. Anamnesa tambahan:
Anamnesa mengenai keluhan utama yang dikembangkan sesuai dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan (kebiasaan buang air kecil / buang air besar, kebiasaan merokok, hewan piaraan, konsumsi obat-obat tertentu sebelum dan selama kehamilan).

PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan fisik umum
1. Kesan umum (nampak sakit berat, sedang), anemia konjungtiva, ikterus, kesadaran, komunikasi personal.
2. Tinggi dan berat badan.
3. Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh.
4. Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu.
2. Pemeriksaan khusus obstetri
1. Inspeksi :
1) Chloasma gravidarum.
2) Keadaan kelenjar thyroid.
3) Dinding abdomen ( varises, jaringan parut, gerakan janin).
4) Keadaan vulva dan perineum.
2. Palpasi
1) Tujuan melakukan palpasi :
1. Memperkirakan adanya kehamilan.
2. Memperkirakan usia kehamilan.
3. Presentasi - posisi dan taksiran berat badan janin.
4. Mengikuti proses penurunan kepala pada persalinan.
5. Mencari penyulit kehamilan atau persalinan.
PALPASI ABDOMEN PADA KEHAMILAN
Tehnik :
1. Jelaskan maksud dan tujuan serta cara pemeriksaan palpasi yang akan saudara lakukan pada ibu.
2. Ibu dipersilahkan berbaring telentang dengan sendi lutut semi fleksi untuk mengurangi kontraksi otot dinding abdomen.
3. Leopold I s/d III, pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan berdiri disamping kanan ibu dengan menghadap kearah muka ibu ; pada pemeriksaan Leopold IV, pemeriksa berbalik arah sehingga menghadap kearah kaki ibu.

Leopold I
1. Leopold I :
o Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada puncak fundus uteri.
o Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan.
o Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus ( bokong atau kepala atau kosong ).
Leopold II
1. Leopold II :
o Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai disamping kiri dan kanan umbilikus.
o Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi denyut jantung janin nantinya.
o Tentukan bagian-bagian kecil janin.
Leopold III
1. Leopold III :
o Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien.
o Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
o Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan apakah sudah mengalami engagemen atau belum.
Leopold IV
1. Leopold IV :
o Pemeriksa merubah posisinya sehingga menghadap ke arah kaki pasien.
o Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin.
o Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus janin.
H. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL

1. Kecemasan berhubungan dengan proses persalinan
2. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3. Resiko gangguan integritas kulit berhubunngan dengan robekan jalan lahir
4. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan

I. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PERSALINAN NORMAL

No Diagnosa keperawatan Tujuan/Kriteria hasil Rencana tindakan
1 Kecemasan berhubungan dengan proses persalinan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ....x24jam, kecemasan teratasi dengan kriteria hasil :
A. Kontrol kecemasan
B. Koping
a) Klien mamou mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
b) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tekhnik untuk mengontrol cemas.
c) Vital sign dalam batas normal.
d) Postur tubuh, ekpresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan. Anxiety reduction (penurunan kecemasan)
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan.
2) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur.
4) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut.
5) Berikan informasi faktualmengenai diagnosis.
6) Libatkan keluarga untuk mendampingi klien.
7) Identifikasi tingkat kecemasan.
8) Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi.
2 Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus Setelah dilalukan tindakan selama ...x24jam. nyeri berkurang dengan kriteria hasil :
A. Paint control
B. Paint level
a) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
b) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
c) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
e) Tanda vital dalam rentang normal a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
d. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
e. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
f. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
g. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi.


3 Resiko gangguan integritas kulit berhubunngan dengan robekan jalan lahir Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24jam gangguan integritas kulit tidak terjadi dengan kriteria hasil:
A. Tissue integrity : skin and mucous membranes.
B. Status nutrisi
C. Tissue perfusion:perifer
D. Dialiysis access integrity.
a) Melaporkan adanya gangguan sensasi atau nyeri pada daerah kulit yang mengalami gangguan.
b) Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang.
c) Status nutrisi adekuat
d) Sensasi dan warna kulit normal. 1) Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang longgar.
2) Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering. Monitor kulit akan adanya kemerahan.
3) Monitor status nutrisi pasien.
4) Kolaborasikan dengan ahli gii untuk pemberian tinggi protein, mineral dan vitamin.
5) Monitor serum albumin dan transferin.
4 Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24jam kurang volume cairan teratasi dengan kriteria hasil :
A. Fluid balance
B. Hydration
C. Nutrition status :food and fluid intake
a) TTV dalam batas normal.
b) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
c) Orientasi terhadap waktu dan tempat baik.
d) Jumlah dan irama pernapasandalam batas normal.
e) Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas normal
f) Intake oral dan intravena adekuat. 1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
2) Monitor status hydrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik)
3) Monitor hasil lab.
4) Monitor vital sign.
5) Monitor status nutrisi.
6) Kolaborasi pemberian cairan IV
7) Monitor status nutrisi.
8) Berikan cairan oral.
9) Dorong keluarga untuk membantu pasien makan.
10) Atur kemungkinan tranfusi.
11) Pasang kateter jika perlu.
12) Monitor intake dan urin output.

DAFTAR PUSTAKA

• Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Editor, Abdul Bari Saifuddin, jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2008.
• Nanda International.DIAGNOSIS KEPERAWATAN DefinisidanKlasifikasi. 2012-2014. Jakarta : EGC.
• Nursing Outcomes Classification (NOC). Fourth Edition
• Nursing Interventions Classification (NIC). Fourth Edition
• http://www.scribd.com/doc/170006320/Laporan-Pendahuluan-Persalinan-Normal
• http://kadekindrii.wordpress.com/2013/10/05/laporan-pendahuluan-asuhan-persalinan-normal/
Ada Lanjutannya lho..Baca Yuks?!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0
Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info