RSS

KONSEP TEORITIS HIPERBILIRUBINEMIA/ICTERUS



A.       Pengertian

Ikterus adalah warna kuning pada kulit, sklera, konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan kadar bilirubin. Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang dapat berpotensi menimbulkan kern icterus bila tidak ditangani dengan baik. Kern ikterus adalah gangguan atau kerusakan otak akibat toksisitas dan penumpukan bilirubin dalam sel otak dengan manifestasi bayi kejang.
1.         Terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang ditandai dengan adanya joundice atau icterus.
2.         Keadaan klinis dimana ditemukannya warna kuning pada kulit dan mukosa yang disebabkan oleh pigmen empedu.

Klasifikasi
Ikterus fisiologis
-          Timbul pada minggu pertama kehidupan
-          Tidak mempunyai dasar patologis
-          Tidak berpotensi terjadinya kern ikterus
Ikterus patologis
-          Mempunyai dasar patologis, timbul dalam 24 jam pertama
-          Peningkatan atau akumulasi bilirubin serum > 5 mg/dl, bilirubin direk >2 mg/dl
-          Kadar bilirubin total serum > 17 mg/dl pada bayi yang mendapat ASI
-          Nilainya

B.       Insidentil

Bilirubin yang beredar dalam tubuh dijumpai dalam bentuk
ü  Bilirubin tak terkonjugasi ( bilirubin indirek)
ü  Bilirubin terkonjugasi ( bilirubin direk)
ü  Bayi yang punya berat lahir <2500 gram atau umur kehamilan < 37 minggu berisiko menggalami hiperbilirubinemia pada minggu pertama kehidupan.
1.         Biasa ditemukan pada bayi baru lahir  à  minggu I
2.         Kejadian ikterus  à  60 % bayi cukup bulan & 80 % à kurang bulan
Perhatian utama  à  ikterus pada 24 jam pertama & bila kadar bilirubin ­ > 5mg/dl dalam 24 jam.
3.         Keadaan yang menunjukkan ikterus patologik :
-          Proses hemolisis darah
-          Infeksi berat 

C.       Etiologi

Etiologi dan faktor predisposisi hiperbilirubinemia :
  1. Peningkatan produksi :
·         Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian  golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
·         Pendarahan tertutup  misalnya pada trauma kelahiran.
·         Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan  metabolik yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
·         Defisiensi G6PD/ Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.
·         Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) , diol (steroid).
·         Kurangnya  Enzim Glukoronil  Transeferase , sehingga  kadar Bilirubin Indirek  meningkat misalnya pada berat lahir rendah.
·         Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
  1. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan  misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
  2. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme  atau toksion yang dapat langsung merusak sel hati  dan darah merah seperti Infeksi , Toksoplasmosis, Siphilis.
  3. Gangguan ekskresi  yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
  4. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif

D. Pathofisiologi

Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh.
Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
            Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari  20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus.  Bilirubin  Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi  terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia.
    
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info